Sunday, June 10, 2012

Membangun Kepribadian Diri

[caption id="attachment_1290" align="aligncenter" width="225" caption="Saya, Aisyah, Mike, Rini @mushola"][/caption]

Orang yang sukses mendidik dirinya sendiri adalah orang yang akan menerima kritik dengan lapang dada demi membangun kepribadian, perilaku, pemikiran serta kehidupan jadi sangat lebih baik. Dengan terjatuh, seseorang akan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, itulah pengalaman. Saya jadi berfikir, "Bali yang sebelah mana sih yang bisa membuat orang jadi lebih buruk?" Dimana letaknya dan biarkan saya melihat.

Namun nyatanya, Alhamdulillah saya hanya melihat lingkungan yang baik, kehidupan yang baik, sahabat-sahabat baik. Saya tahu, perilaku dan sikap seseorang terbentuk dari lingkungan, dan saya tidak memungkiri itu. Namun ketika kita dewasa, kemungkinan untuk terjatuh dalam lingkungan yang kurang baik bahkan buruk, kita sudah bisa menimang dan mempertimbangkan semuanya. Seberapa kuat kita menghadapi kehidupan dan perubahan itu sendiri.

Di Bali, saya justru memiliki jiwa yang bebas, saya berada di tengah-tengah orang hebat dan terjun secara langsung menjadi bagian dari mereka, Subhanallah.. Siapa yang menyangka akan menjadi sepeerti ini? Siapa yang akan menyangka bahwa saya bisa dekat dengan orang-orang hebat ini.

Kuasa Allah melalui tangan sahabat saya Rini, saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, terarah dan lebih merasakan bagaimana hidup itu sebenarnya.

Dari dunia kost -yang selalu terkesan tidak baik- saya belajar sabar, saya belajar lebih bisa menghargai uang, saya belajar mandiri. Saya lebih mengenal Allah, saya berharap banyak dengan Allah, saya meminta banyak sekali permintaan kepada Allah. Saya menempatkan Al-Qur'an sebagai sahabat terbaik saya dan saya ditempatkan pada situasi-situasi yang tak terduga-duga. Luar biasanya dunia ini ketika kita mau keluar hanya untuk menengok diluar jendela.

Sungguh luar biasa kehidupan ini jika kita sedikit saja lebih berani mengexspresikan diri dengan banyak kesempatan selama nafas masih diberikan secara cuma-cuma oleh Allah. Dari dunia kost saya belajar bagaimana saya harus menjaga sebuah kepercayaan, kepercayaan kedua orang tua saya untuk selalu menjaga kehormatan, bersikap baik kepada orang-orang disekitar dan bagaimana kita harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita tahu sebelumnya.

Ketika saya gelisah, saya akan lari kepada Allah, saya mencoba bangkit dengan cara saya sendiri. Saya menenangkan diri dengan bergaul kepada Al-Qur'an, itulah hikmah yang saya dapat dari sendirinya saya ditempat yang jauh dari rumah. Hikmah yang luar biasa.

Sedangkan dari kebebasan saya belajar bagaimana mengontrol diri, mengontrol keuangan, mengontrol perilaku dan mengontrol waktu. Dengan kebebasan saya kembali diuji bagaimana saya harus selalu melakukan hal-hal baik. Ketika saya merasa tidak ada seorangpun akan mengatur aktifitas saya, tindakan saya dan apa aja yang mau saya lakukan. Saya masih menimang dan berfikir lagi, bahwa "Kegiatan ini ada manfaatnya ngga'?" Apa yang saya dapatkan jika saya melakukan hal ini. Kebebasan juga bukan suatu hal yang kita harus memerdekakan waktu dan apapun yang ingin dikerjakan maka kerjakanlan.

Dengan tanpa larangan apapun, saya akan jauh lebih berhati-hati, bahwasanya Allah selalu melihat saya, Allah mengawasi saya dan Allah selalu tau apa yang saya kerjakan. Apakah itu adalah kebebasan? Kebebasan di mata manusia sama sekali tidak akan membawa dampak besar karena di Dunia Allah kelak -Akherat- kebebasan yang kita lakukan akan di pertanggung jawabkan tanpa setitik debupun terlewatkan. Tidak selembarpun daun jatuh tanpa izin Allah, itu yang berarti Allah maha adil dan maha melihat apa-apa yang kita kerjakan. Apakah kita masih merasa punya banyak kebebasan?

Situasi akan membawa kita kepada kehidupan untuk diri kita sendiri. Tidak ada gunanya menggunakan persepsi negatif untuk membangun perilaku yang baik. Saya belajar menilai kritikan, perbuiatan seseorang dari segi positif, dengan begitu saya berfikir, tidak akan memandang sebuah masalah itu datang tanpa sebab sebelumnya.

Jadi, intinya Berfikir positif akan membuat kehidupan kita menjadi jauh lebih baik. Berprasangka dan memandang segala sesuatu itu dari segi positif semuanya akan jauh lebih bisa membuat hidup kita lebih dan lebih baik lagi, InsyaAllah.

[caption id="attachment_1291" align="aligncenter" width="300" caption="Saya dan Rini bersama Ibu Yayah Qomariah Pelaksana Homeschooling"][/caption]

Semangat ya.. untuk tetap positif thinking ;). Artikel ini kelanjutan dari Membangun Kepribadian Diri.

1 comment:

  1. Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.

    ReplyDelete