Saturday, December 21, 2013

Karena Allah Aku Menikah

Detak jantung jarum jam semakin melambat, entah semakin cepatnya atau memang seseorang disana tengah menunggu waktu yang tak kunjung datang. Hatinya semakin berdentam, menggedebuk, menabuh hingga inin mencuat keluar karena ia begitu gelisah, gelisah dalam bahagia. Riuh riak diluar sana pun bukan lagi menjadi alasan kenapa hatinya terus dan terus bernyanyi, inilah waktunya, inilah saatnya.

Kemarin, ia hanyalah seorang gadis tengil yang suka seenaknya sendiri, semaunya sendiri dan apapun sendiri. Kemarin dia hanyalah seorang gadis yang selalu menantikan dan mencari keinginan sebongkah hati untuk bertemu seseorang, orang yang berharga dan seorang yang akan menjaga dirinya, seumur hidup.

"Hari ini, yah hanya menunggu hitungan jam, ah bukan.. hitungan menit, ah.. tidak, hanya beberapa detik lagi semua ketengilan ini akan berakhir. Semua kebebasan berfikir sendiri akan berganti, bermetamorfosis menjadi satu langkah maju kedepan, menuju sebuah gerbang, Pernikahan."

Hari itu akupun merasakan perasaan yang sama, hatiku bergetar, menghantam dinding-dinding dada untuk ingin segera mengakhiri semuanya. Mengakhiri gelisahnya hati yang sudah menjadi pokok bahan utama yang melahap semua hari dan fikiranku semasa sendiri. Saya selalu berfikir keras bagaimana nanti jodohku, bagaimana nanti suamiku, bagaimana nanti aku akan menjalani kehidupan dengannya dan bagaimana aku harus menjadi orang yang akan selalu mengerti orang lain. Bagaimana dan terus bagaimana hati ini bertanya sendiri, dengan fikiran, dengan raga dan dengan semuanya.

Namun, hari itu saya mulai menyadari sesuatu, niat dan tujuan ini hanya karena Allah. Cinta adalah alasan yang kesekian kalinya saya menikah, cinta adalah hanya sekedar uangkapan saya berani diikat dan mengikat sebuah ikrar janji dihadapan Allah. Dan seseorang diluar sana adalah orangnya. Orang yang akan membantu saya, menjaga, membimbing dan memulai sebuah kehidupan yang sebenarnya, dialah orangnya.

Semakin lama saya menyadari, bahwa bukanlah cinta tujuan orang menikah, tapi bagaimana visi dan misi dalam kehidupan kedepannya. Tapi jika semua karena Allah, cinta itu akan terbentuk tanpa beban, tanpa kecewa, tanpa ada perasaan menyesal kenapa begini dan begitu. Sungguh rugi jika jiwa muda semasa sendiri hanya sibuk menjadi orang lain untuk mencari pasangan, bukan sibuk menjadi diri sendiri dan memantaskan diri untuk pasangan yang lebih baik. Begitulah kira-kira pengalaman sebuah masa, sendiri akan terus membuat seseorang sibuk dengan dirinya sendiri juga perasaannya, namun menikah, tidak lain dan tidak bukan adalah pengemabangan jiwa yang semakin matang.

Fokus terhadap masa depan, ibadah dan sebuah pengabdian kepada suami atas dasar Cinta karena Allah, semuanya akan berjalan begitu indah, melangkah dengan perlahan dan tentang sebuah kebersamaan dalam suka dan duka. Bukan saat masih sendiri yng hanya memikirkan kesenangan dan kebahagiaan, tapi lebih kepada bagaimana bisa saling melengkapi dan saling menutup kekurangan. Itulah pernikahan, sebuah ikatan suci yang penuh dengan sesuatu yang berbeda.

No comments:

Post a Comment