Monday, January 13, 2014

Sabar dan Syukur, Kunci Sebuah Kebahagiaan

Dunia maya adalah dunia yang gak bisa ditinggalkan oleh anak-anak muda di jaman semodern sekarang. Ada banyak cerita yang mereka buat disana, sedih, senang, dan kadang melampuai batas. Beberapa kali duduk bareng dengan suami, dan entah apa yang diomongkan hingga saya sadar satu hal. Suami saya bukan orang yang dulu saya kenal. Dia yang tak pernah berkata alim, gak pernah berkata yang menyinggung tentang agama, Tuhan, dan orang yang gak pernah membicarakan apapun itu menyangkut islam di dunia maya.

Tetapi saya lebih menyimpan kekaguman kepada orang yang selalu membuat status di FB-nya dengan nada-nada alim. Yang dia suka menulis kata-kata yang menyangkut tentang agama dan memperhatikan agama. Itu karena kecintaan saya terhadap orang-orang yang memperhatikan agamanya, kecintaan saya terhadap mereka yang selalu menjaga sholat dan memperbaiki dirinya, hari demi hari.

Namun nyatanya, Sekarang mereka yang dulunya selalu bergembar-gembor dengan agama dan haadist-hadist diketahui punya pacar, jalan dengan wanita dan pergi dengan orang yang bukan muhrim secara intim. Apakah manusia sudah dibutakan oleh kata-kata, oleh penglihatan sesaat dan oleh sebuah pribadi yang nampak hanya di depan tulisan-tulisan. Saya terangkan, orang yang hanya mengagumi depannya seseorang akan tau sendiri kebenarannya ketika semuanya telah dekat dan terkuak.

Suami saya orang yang terlihat diam, cuek dan gak pernah peduli dengan hal-hal yang menyangkut agama, itu hanya kelihatannya. Semakin hari saya bersamanya, semakin hari rasa syukur ini tumbuh di hati.  Semakin saya mengenalnya, semakin saya tahu bagaimana dia sebenarnya. Itu hanya satu contoh bagaimana kita harus pandai menilai orang lain.

Tentu saja kita gak boleh disibukkan dengan penilaian-penilaian kepada orang lain semata. Apalagi jika kamu masih sendiri, penilaian terhadap diri sendiri adalah modal utama agar mendapat pasangan yang sama sepertimu. Bukan karena kecantikanmu, bukan karena modisnya jilbabmu, bukan karena kayanya kamu, tapi karena takwamu kepada Allah, karena Imanmu dan bagaimana sikapmu seharusnya menjadi seorang muslimah.

Ketika melihat status Fb, foto-foto FB temen yang suka bersayang-sayangan dan bergambar bersama dalam satu bingkai, bukan saatnya kamu untuk iri, bukan saatnya kamu untuk kepingin sepereti itu dan bukan saatnya untuk kamu harus punya yang sama seperti foto itu. Setan selalu menang menggoda nafsu orang yang masih sendiri, setan selalu menang menggelabui orang-orang yang belum menikah, mereka selalu menang.

Setelah menikah, tugas kita sebagai seorang muslimah, bukan bekerja diluar rumah dan sekenanya saja bertemu dengan wajah-wajah baru. Bukan emansipasi, bukan untuk sebuah perjuangan, tapi ketika kita menikah, rumah adalah tempat bekerja kita. Saya menganggap salah jika seorang muslimah mementingkan karirnya ketika sebelum menikah dari pada rumahnya sendiri. Karena kita hidup bukan untuk dunia, kita berkeluarga bukan untuk menambah harta, kita menikah bukan untuk mencari harta dengan bekerja sendiri diluar sana. Tapi kita sebagai muslimah, hanya bertugas menjaga rumah, menjaga kehormatan, menjaga harta yang di berikan Allah dengan perantara suami dan beribadah kepada Allah.

Sulit memang, awalnya sulit. Namun, jika dinikmati.. rasa nikmat itu akan datang jika kita menambah rasa sabar dan syukur atas semua rezeki yang kita dapatkan, sekecil apapun itu. Satu hal yang harus diketahui oleh muslimah, Menikah akan merubah semuanya menjadi sebuah ketentraman dan keindahan, jika kita pandai bersyukur :).

No comments:

Post a Comment