Tuesday, July 26, 2016

Setetes Asi Untuk Anakku

"Mas, kok rasanya aku kepengen buang air besar terus ya?"

Pagi itu, saya merasa perut ini memililit setengah mati, pengen buang air besar namun tak juga bisa keluar.

"Ah.. mungkin adek makan sambelnya kebanyakan nih, pedes lagi"

Jawab suami saya enteng sambil mengelus perut saya yang semakin membuncit karena usia kehamilan yang sudah 8 bulan. Pagi itu, tepatnya 18 Mei 2014, saya memang membuat menu masakan yang super pedas. Secobek besar sambel rujak cingur serta sayuran yang banyak sekali. Rasanya ingin saya habiskan semua. Memang, sejak hamil, saya menyukai makanan pedas. Tanpanya, saya tak enak makan.

Untuk yang ke empat kalinya masuk kamar mandi, tiba-tiba saya mendapati cairan berwarna putih dan terdapat darah. Seperti yang saya baca di buku tentang kehamilan yang jauh-jauh hari saya pelajari, cairan tersebut adalah tanda-tanda melahirkan.

"Mas.. ada darahnya, masak mau melahirkan" Kata saya setengah gak percaya..

Dan ternyata benar, setelah mertua saya membawa saya ke bidan desa, saya telah mengalami bukaan satu. Shock karena saya merasa sangat belum siap untuk melahirkan, belum lagi.. persiapan baju-baju bayi yang belum dibeli karena masih jauh dari Hari perkiraan lahir yaitu sebulan lagi. Akhirnya sang bidan merujuk saya untuk pergi ke Rumah Sakit untuk melahirkan disana karena dirasa bu Bidan tidak mampu karena sang bayi dianggap prematur.

Akhirnya dengan keterbatasan yang kami punya, saya dibawa ambulan desa pergi ke Rumah Sakit. Pukul 09.00 pagi sampai 09.00 malam saya merasakan kontraksi yang luar biasa. Hingga tepat pukul 09.21 bayi laki-laki saya lahir dengan selamat, Alhamdulillah.. Hilang rasa sakit saya melihat bayi mungil yang dibawa oleh suster itu, dengan berat hanya 2,2Kg dan panjang 41cm, dialah bayi saya.



Perjuangan belum habis sampai disana, ternyata anak saya Kinza, harus di Incubator karena termasuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), yaitu kurang dari 2,5 Kg. Sehari saya tidak menengoknya diruang bayi, entahlah.. perasaan saya bercampur aduk. Antara menjadi ibu baru yang sedih atau bahagia. Melihat bayi-bayi lain yang ada disebelah kanan kiri tempat tidur saya, mereka menyusu dengan lahapnya, saya menangis.

"Kapan saya bisa memberi anak saya ASI?"

Akhirnya, hari dimana saya diperbolehkan melihat anak saya tiba, pilu rasanya melihatnya berada ditabung sendirian dengan selang disana sini. Infus ditangan dan hidungnya yang terlihat begitu menyiksa, dia anakku, dia lemah, dia kecil.. Siapa yang memperlakukannya setega ini. Belum lagi ditambah selang kecil dimulutnya karena ada masalah di lambungnya. Karena sebagai ibu baru, yang juga tidak mengenal dunia medis, batin saya mengutuk orang-orang yang memperlakukan anak saya seperti ini. Saya gak tau, kapan air mata ini tiba-tiba saja membanjiri pipi, tangan suami yang ada di bahu saya menguatkan dengan penuh kasih, "Yang kuat, dek.." katanya perlahan.

Saat itulah, saya memberikan ASI pertama kali kepadanya, namun sepertinya dia tak mau membuka mulut kecilnya itu. Entah kesusahan atau kesakitan karena banyaknya suntikan, saya hanya melihatnya,  tak tega.

"Sabar ya Nak, mimik yang banyak biar adek cepet sehat, nanti kita pulang ya Nak.. "

Kata-kata itu terus yang saya katakan kepadanya sambil mengelus kepalanya yang mungil. Hari berganti hari, saya terus melihat anak saya, memberinya ASI dengan baik.

Tiba di hari keempat, seperti biasanya saya melihat anak saya di jam kunjungan yang ditentukan, pukul 03.00 pagi, dan betapa kagetnya saya ketika mendapati suster yang menjaga ruang bayi tersebut  sedang memberikan dot susu formula dimulut mungil itu.

"Suster, kenapa anak saya di beri susu formula?"  tanya saya sinis.. Padahal jelas-jelas ada stok ASI saya didalam kulkas ruang bayi tersebut untuk jaga-jaga.

"Anak Ibu nangis terus" jawabnya singkat, yang dilanjutkan dengan kata, "Ibu gak dateng-dateng"

Apaa... dia bilang saya gak datang-datang, kelamaan. Saya marah.

"Bukankah ada ASI saya disini, kok gak dikasih itu saja?" Sang susterpun akhirnya terdiam, tanpa meminta maaf.

Dan yang saya tahu, peraturan didalam ruang bayi tersebut, meskipun ASI didalam botol, bayi gak boleh diberikan minum ASI-nya dengan dot, harus disendokin untuk menghindari bingung puting.

Sejak saat itu, saya selalu datang sangat awal untuk memberikan ASI Eksklusif untuk Kinza selama 10 hari berada di NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Saya gak mau alasan karena bayi saya nangis atau saya datangnya telat menjadi tameng untuk mereka. Mungkin bagi mereka ini hal sepele karena memang tugasnya setiap hari ditambah jaga malam yang membuat mereka "sedikit malas" mendengar tangis bayi. Tapi bagi saya sebagai seorang ibu baru, selama saya masih mampu memberikan yang terbaik untuk anak saya, yaitu hanya ASI saat ia lapar. Dan hal tersebut merupakan usaha yang harus diperjuangkan dengan tegas. Tidak peduli mata bengkak karena harus bangun tengah malam hingga 3-4 kali kemudian berjalan ke ruang bayi, semuanya demi setetes ASI untuk anakku.

Mata bengkak karena kurang tidur, sebuah perjuangan..

Kinza, dalam pelukan, tak berdaya

Dan hari ini, 26 bulan yang lalu, Kinza tumbuh menjadi batita yang sehat, kuat dan tidak pernah mengalami sakit parah kecuali hanya flu ringan. Saya percaya, kekuatan dan lengkapnya kandungan nutrisi dalam ASI sangat berperan penting dalam membentuk kekebalan tubuh dan penunjang kesehatan Kinza. Terimakasih Ya Allah, telah memberikan ASI yang begitu melimpah untuk Kinza hingga saya menyapihnya, 2 bulan yang lalu.

Tulisan ini saya ikut sertakan Give Away dalam memperingati Pekan ASI Dunia. Semoga menginspirasi :).

6 comments:

  1. Proud of u mba.. sebagai ibu baru semangatnya luar biasa. Terharu bacanya. Jadi ingat pengalaman lahiran anak kedua yang susternya malas2an ngantar si kecil ke ruang ibu. Jadinya saya ngotot beberapa kali minta. Semoga makin banyak calon ibu yang membekali diti dengan pengetahuan ttg ngASI sebelum datangnya persalinan. Dan semoga tak ada lagi petugas di ruang persalinan yang ga pro ASI ya.. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. kadang emang kalo ngerasa gak punya anak ya beda rasanya haha.. Trimakasih kunjungannya mbak Ira..

      Delete
  2. Lho ternyata Kinza dan Han cuma berselisih sedikit umurnya ya Mbak? Hehe memang anak ASI lebih kebal terhadap flu ya mbak, dan itu aku buktikan sendiri sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut, meski kerja tetep ASI gk pernah brenti mbak Rani

      Delete